TRIK CAH NDESO

May 10, 2014

NYADRAN SEBAGAI TOLAK BALAK BENCANA

NYADRAN SEBAGAI TOLAK BALAK BENCANA


Masyarakat merupakan kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinu dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Adanya saling bergaul dan interaksi karena mempunyai nilai-nilai, norma-norma, cara-cara dan prosedur yang merupakan kebutuhan bersama. Dari sinilah, kita ketahui bahwa kesepakatan-kesepakatan yang berupa nilai, norma dan cara hidup tersebut yang secara kontinu telah melahirkan apa yang dinamakan kebudayaan. Kebudayaan sendiri bisa berupa kebiasaan yang telah melembaga dalam diri masyarakat dan merupakan produk dari kumpulan individu yang bersatu.

Nyadran adalah salah satu proses adat budaya jawa yang berwujud kegiatan setahun sekali pada bulan Ruwah. Hal ini selalu dilakukan oleh masyarakat desa JA AN Gondang kabupaten Nganjuk. Berawal dari bersih-bersih makam para leluhur, memasak makanan tertentu seperti apem, memberi makanan kepada tetangga, dan slametan atau kenduri. Nama nyadran ini berasal dari kata Sraddha, Nyraddhan, maka dari itu nyadran menceritakan upacara sraddha untuk memperingati meninggalnya Tribhuwana Tungga Dewi pada tahun 1350.
Upacara Sraddha  memperingati para sesepuh yang sudah tutup usia, menggunakan sesaji yang berwujud baita (prau) yang dibuat dari bunga  (puspa, sekar). Tradisi nyadran sudah ada sejak jaman Maja Pahit hingga sekarang. Penghormatan untuk para leluhur yang masih lestari dan disembah (percaya) oleh masyarakat. Berkunjung ke makam pada bulan Ruwah (adat Jawa) mempunyai manfaat dan pengetahuan pada anak cucu agar tetap ingat pada para leluhur yang sudah tutup usia.
“Ritual ini dilakukan meminta selamat dan kemakmuran. Acara tersebut juga merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena telah diberi panen yang melimpah. Ungkap Pak Sumarno selaku Kepala Dusun Desa JA AN (Jum’at 05/2014). Acara ini diikuti puluhan masyarakat dan sesepuh desa yang beriringan  mengantar sesaji berupa hasil bumi ke makam. Ratusan warga yang hadir dipemakaman desa tersebut, berebut sesaji berupa hasil bumi dan makanan yang telah dibawa. Ratusan orang meyakini, makanan maupun barang-barang yang sudah di karak oleh dayang-dayang mulai dari balai desa sampai ke sarean (makam) memiliki manfaat sendiri.

Masyarakat desa JA AN tidak hanya melakukan ritual, tetapi juga menggelar acara-acara hiburan pada malam harinya yang sangat ramai ada pasar malam, tayub dan wayang kulit. Simbul kebudayaan di setiap tempat beraneka ragam dan juga memiliki pemaknaan berbeda pula, dari waktu ke waktu bahkan pemaknaan orang yang satu berbeda dengan yang lainnya, tergantung dari sudut pandang mana orang tersebut memaknai. (NI)

Nama   : Nurul Istiqomah
Kelas   : 4-C
NPM   : 10.1.01.07.0137

No comments:

Post a Comment