Masyarakat merupakan
kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat
tertentu yang bersifat kontinu dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama.
Adanya saling bergaul dan interaksi karena mempunyai nilai-nilai, norma-norma,
cara-cara dan prosedur yang merupakan kebutuhan bersama. Dari sinilah, kita
ketahui bahwa kesepakatan-kesepakatan yang berupa nilai, norma dan cara hidup
tersebut yang secara kontinu telah melahirkan apa yang dinamakan kebudayaan.
Kebudayaan sendiri bisa berupa kebiasaan yang telah melembaga dalam diri
masyarakat dan merupakan produk dari kumpulan individu yang bersatu.
Nyadran adalah salah
satu proses adat budaya jawa yang berwujud kegiatan setahun sekali pada bulan
Ruwah. Hal ini selalu dilakukan oleh masyarakat desa JA AN Gondang kabupaten
Nganjuk. Berawal dari bersih-bersih makam para leluhur, memasak makanan
tertentu seperti apem, memberi makanan kepada tetangga, dan slametan atau
kenduri. Nama nyadran ini berasal dari kata Sraddha, Nyraddhan, maka dari itu
nyadran menceritakan upacara sraddha untuk memperingati meninggalnya Tribhuwana
Tungga Dewi pada tahun 1350.
Upacara Sraddha memperingati para sesepuh yang sudah tutup
usia, menggunakan sesaji yang berwujud baita (prau) yang dibuat dari bunga (puspa, sekar). Tradisi nyadran sudah ada
sejak jaman Maja Pahit hingga sekarang. Penghormatan untuk para leluhur yang
masih lestari dan disembah (percaya) oleh masyarakat. Berkunjung ke makam pada
bulan Ruwah (adat Jawa) mempunyai manfaat dan pengetahuan pada anak cucu agar
tetap ingat pada para leluhur yang sudah tutup usia.
“Ritual ini dilakukan
meminta selamat dan kemakmuran. Acara tersebut juga merupakan ungkapan rasa
syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena telah diberi panen yang melimpah.
Ungkap Pak Sumarno selaku Kepala Dusun Desa JA AN (Jum’at 05/2014). Acara ini
diikuti puluhan masyarakat dan sesepuh desa yang beriringan mengantar sesaji berupa hasil bumi ke makam.
Ratusan warga yang hadir dipemakaman desa tersebut, berebut sesaji berupa hasil
bumi dan makanan yang telah dibawa. Ratusan orang meyakini, makanan maupun
barang-barang yang sudah di karak oleh dayang-dayang mulai dari balai desa
sampai ke sarean (makam) memiliki manfaat sendiri.
Masyarakat desa JA AN tidak
hanya melakukan ritual, tetapi juga menggelar acara-acara hiburan pada malam
harinya yang sangat ramai ada pasar malam, tayub dan wayang kulit. Simbul
kebudayaan di setiap tempat beraneka ragam dan juga memiliki pemaknaan berbeda
pula, dari waktu ke waktu bahkan pemaknaan orang yang satu berbeda dengan yang
lainnya, tergantung dari sudut pandang mana orang tersebut memaknai. (NI)
Nama : Nurul Istiqomah
Kelas : 4-C
NPM : 10.1.01.07.0137
No comments:
Post a Comment