" Para Penjual Sate"
Penjual Sate Di
Yogyakarta, ada banyak sekali profesi yang kelihatannya, lebih pas digeluti
oleh kaum perempuan. Di kawasan kilometer nol penghujung Malioboro, setiap sore
hari berbaris lebih dari sepuluh perempuan yang membawa nampan lebar, terbuat
dari kayu, di kepala mereka. Kau tahu? Mereka para penjual sate. Akan nampak
aneh jika ada penjual sate dengan metode semacam itu, seorang laki-laki.
Kebiasaan dan kewajaran yang terbentuk sebagai opini publik berpuluh-puluh
tahun, memang mematok perempuanlah yang lebih cocok berdagang seperti itu.
Beberapa
kali saya tanyakan, ternyata perempuan-perempuan yang berumur rata-rata
setengah baya, atau lebih muda ini sebagian berasal dari perkampungan padat di
bantaran Kali Code. Mereka memilih menjadi penjual sate karena nilai
turun-temurun yang mengantarkan mereka ke tradisi wirausaha yang sederhana, dan
murah, lagi masih dibutuhkan. Mereka yang masih muda mengaku berjualan karena
mewarisi dagangan orangtua, sedangkan mereka yang sudah lebih tua mengaku
ikut-ikutan teman mereka sekampung yang memilih berjualan sate. Memang, pola
paguyuban yang menjadi karakter wirausaha Orang Jawa terbukti menyelamatkan
mereka dalam persaingan bisnis multipolar yang saat ini semakin berkembang.
Itulah
yang membuat para pengusaha kecil-kecilan ini merasa lebih tajam di
tengah-tengah bisnis-bisnis besar di Sepanjang Malioboro. Ada banyak toko, ada
mal besar, namun nyaris tak ada warung sate. Dengan berbekal keyakinan, maka
paguyuban para laskar Kartini ini menguatkan posisi mereka. Dengan modal nampan
kayu, panci, alat panggang kecil, bahan yang cukup, serta leher dan punggung
yang sehat, mereka mengusung dagangan sate mereka, lalu berhenti dan berjejer
di sepanjang trotoar mulai depan Benteng Vredeburg, hingga kawasan Kilometer
Nol.
Duka? Tentu saja ada.
Beberapa
kali kerumunan wisatawan yang memilih beristirahat di kawasan itu dibuat
menggeleng-geleng dan tergelitik saat para perempuan pedagang sate ini harus
rela memberesi nampan dan dagangan mereka tiba-tiba, saat mendengar sirine
polisi atau melihhat para polisi pamong praja turun dari mobil. Ya, duka
mereka, adalah karena berdagang di kawasan larangan berdagang. Pol PP hampir 3
kali seminggu mengadakan razia, dan dalam 3 kali itu pula, para perempuan
pedagang sate ini harus siap ambil langkah seribu agar tidak diangkut ke atas
mobil dan dagangannya ditertibkan. Pada suatu hari Kamis, saya tanyakan ke
salah seorang pedagang, yang masih muda, mengapa mereka tidak libur berdagang sekalian
jika sudah tahu akan ada razia? katanya, Wah, mas. Kalo libur ya ndak dapat
uang buat makan. Toh juga razia kadang cuman sebentar, jadi nanti bisa balik
lagi jualan lagi.
Itulah, mereka, para
titisan Kartini, yang memilih menjadi Penjual Sate.
Kekayaan
budaya dan karakter sosial kota Jogja tak terlepas dari andil mereka, para
pedagang kecil. Kecil, mungkin ya jika dilihat dari kapasitas dan metode
penjualannya. Namun mereka sejatinya besar, karena harus menemui tantangan
setiap hari, yang sebetulnya mereka sudah tahu risikonya, namun mereka tak
banyak pilihan. Mereka menjadi orang-orang peka dan terlatih karena itu. Dan
saya yakin, mereka lebih menghargai uang Rp 3.000,- daripada sebagian orang
lain yang memiliki banyak harta, yang lalu jatuh bangkrut lantaran tak tahu
harga perjuangan atas selembar uang seribu.
Para
penjual sate di Malioboro ini, adalah inspirasi bagi semua orang, bagi
seratusan orang yang nongkrong di kawasan itu setiap harinya. Orang-orang tak
melihat mereka rendah, tapi penolong. Memang nampak sedih sekaligus menggelikan
ketika mereka terbirit-birit menghindari para satpol PP, akan tetapi saat
mereka yakin dan kembali duduk untuk melayani para pembelinya, itulah titik
kemenangan mereka yang membuat banyak orang iri lantaran tak bisa berbuat
apapun buat hidupnya. Mereka semua perempuan, dan mereka menegaskan bahwa
semangat Habis Gelap Terbitlah Terang masih akan terus benderang, tak akan
kalah oleh aturan dan birokrasi apapun, selama mereka ada di situ untuk
mengawal keyakinannya. Penjual Sate
NAMA : UPLOAD BY RATIH PUTRI PALUPI
No comments:
Post a Comment