TRIK CAH NDESO

Jul 13, 2014

Penjual Sate



" Para Penjual Sate"

 Penjual Sate Di Yogyakarta, ada banyak sekali profesi yang kelihatannya, lebih pas digeluti oleh kaum perempuan. Di kawasan kilometer nol penghujung Malioboro, setiap sore hari berbaris lebih dari sepuluh perempuan yang membawa nampan lebar, terbuat dari kayu, di kepala mereka. Kau tahu? Mereka para penjual sate. Akan nampak aneh jika ada penjual sate dengan metode semacam itu, seorang laki-laki. Kebiasaan dan kewajaran yang terbentuk sebagai opini publik berpuluh-puluh tahun, memang mematok perempuanlah yang lebih cocok berdagang seperti itu.
Beberapa kali saya tanyakan, ternyata perempuan-perempuan yang berumur rata-rata setengah baya, atau lebih muda ini sebagian berasal dari perkampungan padat di bantaran Kali Code. Mereka memilih menjadi penjual sate karena nilai turun-temurun yang mengantarkan mereka ke tradisi wirausaha yang sederhana, dan murah, lagi masih dibutuhkan. Mereka yang masih muda mengaku berjualan karena mewarisi dagangan orangtua, sedangkan mereka yang sudah lebih tua mengaku ikut-ikutan teman mereka sekampung yang memilih berjualan sate. Memang, pola paguyuban yang menjadi karakter wirausaha Orang Jawa terbukti menyelamatkan mereka dalam persaingan bisnis multipolar yang saat ini semakin berkembang.
Kesempitan adalah ketajaman.Penjual Sate 
Itulah yang membuat para pengusaha kecil-kecilan ini merasa lebih tajam di tengah-tengah bisnis-bisnis besar di Sepanjang Malioboro. Ada banyak toko, ada mal besar, namun nyaris tak ada warung sate. Dengan berbekal keyakinan, maka paguyuban para laskar Kartini ini menguatkan posisi mereka. Dengan modal nampan kayu, panci, alat panggang kecil, bahan yang cukup, serta leher dan punggung yang sehat, mereka mengusung dagangan sate mereka, lalu berhenti dan berjejer di sepanjang trotoar mulai depan Benteng Vredeburg, hingga kawasan Kilometer Nol.
Duka? Tentu saja ada.
Beberapa kali kerumunan wisatawan yang memilih beristirahat di kawasan itu dibuat menggeleng-geleng dan tergelitik saat para perempuan pedagang sate ini harus rela memberesi nampan dan dagangan mereka tiba-tiba, saat mendengar sirine polisi atau melihhat para polisi pamong praja turun dari mobil. Ya, duka mereka, adalah karena berdagang di kawasan larangan berdagang. Pol PP hampir 3 kali seminggu mengadakan razia, dan dalam 3 kali itu pula, para perempuan pedagang sate ini harus siap ambil langkah seribu agar tidak diangkut ke atas mobil dan dagangannya ditertibkan. Pada suatu hari Kamis, saya tanyakan ke salah seorang pedagang, yang masih muda, mengapa mereka tidak libur berdagang sekalian jika sudah tahu akan ada razia? katanya, Wah, mas. Kalo libur ya ndak dapat uang buat makan. Toh juga razia kadang cuman sebentar, jadi nanti bisa balik lagi jualan lagi.


Itulah, mereka, para titisan Kartini, yang memilih menjadi Penjual Sate.
Kekayaan budaya dan karakter sosial kota Jogja tak terlepas dari andil mereka, para pedagang kecil. Kecil, mungkin ya jika dilihat dari kapasitas dan metode penjualannya. Namun mereka sejatinya besar, karena harus menemui tantangan setiap hari, yang sebetulnya mereka sudah tahu risikonya, namun mereka tak banyak pilihan. Mereka menjadi orang-orang peka dan terlatih karena itu. Dan saya yakin, mereka lebih menghargai uang Rp 3.000,- daripada sebagian orang lain yang memiliki banyak harta, yang lalu jatuh bangkrut lantaran tak tahu harga perjuangan atas selembar uang seribu.
Para penjual sate di Malioboro ini, adalah inspirasi bagi semua orang, bagi seratusan orang yang nongkrong di kawasan itu setiap harinya. Orang-orang tak melihat mereka rendah, tapi penolong. Memang nampak sedih sekaligus menggelikan ketika mereka terbirit-birit menghindari para satpol PP, akan tetapi saat mereka yakin dan kembali duduk untuk melayani para pembelinya, itulah titik kemenangan mereka yang membuat banyak orang iri lantaran tak bisa berbuat apapun buat hidupnya. Mereka semua perempuan, dan mereka menegaskan bahwa semangat Habis Gelap Terbitlah Terang masih akan terus benderang, tak akan kalah oleh aturan dan birokrasi apapun, selama mereka ada di situ untuk mengawal keyakinannya. Penjual Sate 
NAMA : UPLOAD BY RATIH PUTRI PALUPI

No comments:

Post a Comment