KETIKA MATA HATI MENGGANTIKAN PENGLIHATAN
Nganjuk, 05 Mei 2014
Allah
menciptakan manusia dengan beberapa panca indra untuk merasakan apa yang ada
disekitarnya. Namun di dunia ini tiada yang sempurna, pasti ada kekurangan baik
jasmani maupun rohani. Banyak manusia yang mempunyai fisik sempurna, namun
kurang mensyukuri atas apa yang telah Allah karuniakan kepadanya, ada juga
manusia yang mempunyai fisik kurang sempurna, namun dia mensyukuri karunia yang
Allah berikan dengan tetap tegar, semangat, tidak mudah menyerah dan putus asa.
Ia ingin membuktikan bahwa ia mampu meskipun dengan keterbatasan yang dimiliki
bisa seperti orang yang fisiknya sempurna.
Kang Warsito,
begitulah panggilan akrabnya. Beliau adalah seorang yang menghabiskan
hari-harinya dengan menjaga masjid Darul Muttaqiin desa Ngangkatan mulai tahun
1994 sampai sekarang. Di raut
wajahnya beliau tidak pernah terlihat sedih, hanya senyuman manis yang selalu
beliau berikan kepada orang disekitarnya, hanya saja beliau merasa sedih dan
capek untuk mengajak masyarakat disekitarnya untuk mendatangi rumah Allah
(Masjid). Namun itu semua tidak mematahkan semangat beliau untuk menjaga masjid
Darul Muttaqiin. Sungguh begitu agungnya karunia-MU ya ALLAH, meskipun mata
fisik beliau tidak bisa melihat gemerlapnya dunia ini, tapi mata hatinya mampu menuntun langkah kaki menapaki jalan dalam
melewati hari-hari yang dilaluinya.
“Saya
tuna netra sejak lahir mulai tahun 1965, tapi dulu ketika berusia sepuluh tahun
saya sempat merasakan ada cahaya apabila disorot/disenteri, tapi setelah itu
saya tidak bisa melihat sama sekali.” kata Kang Warsito.
Bapak separuh
baya yang mempunyai nama lengkap Dikin Warsito merupakan warga asli desa
Ngangkatan, kecamatan Rejoso-Nganjuk. Masalah pendidikan beliau juga tidak
kalah dengan orang-orang yang mempunyai fisik sempurna yaitu pada tahun 1982
beliau mengenyam pendidikan di Panti Asuhan Penderita Cacat Tuna Netra Budi
Mulyo, kecamatan Blimbing-Malang selama dua tahun. Setelah itu beliau
melanjutkan pendidikannya di Pondok Safatul Qur’an yang berada di desa Lang-lang,
kecamatan Singosari-Malang. Selama di Pondok aktivitas yang dilakukan kang
Warsito antara lain, membaca Al-qur’an Braille, membaca asma-asma Allah,
memijat dll. Kang Warsito mempunyai hobi membaca Al-qur’an dan ngadroh
(menyanyi lagu islam). Beliau pernah menjuarai MTQ pada saat itu mendapatkan
juara satu.
Beliau mempunyai
tiga saudara yang saat ini berada di sekitar Nganjuk dan satunya berada di Kalimatan.
Sampai saat ini kang Warsito belum mempunyai keluarga, beliau tinggal disamping
masjid yang terdapat seperti rumah petak berukuran sedang. Kang Warsito disebut
sebagai Takmir masjid tidak mau, dia hanya menganggap dirinya sebagai penjaga masjid Darul Muttaqin. Ia menghabiskan waktunya dengan mengaji, membaca
Al-qur’an, adzan apabila tiba waktu sholat dan sebagai imam di Masjid Darul
Muttaqin, untuk masalah makanan kang Warsito biasanya beli di warung-warung
terdekat atau juga diberi oleh warga sekitar.
“Waktu
di Malang dulu saya pernah memijat, disini pun saya memijat kalau ada yang
menyuruh, tapi saya tidak menawarkan kalau saya bisa memijat.” ungkapnya.
“Kunci
orang sukses, jangan mempunyai rasa malas dan yang penting tetap berusaha
sekuat tenaga. Selain itu hal terpenting adalah selalu mendekatkan diri kepada
Sang Khalik.” pesan kang Warsito.
By:
Puji Astutik (10.1.01.07.0141)
No comments:
Post a Comment