PROGRAM KB DI DESA”MONYET”
KB atau Keluarga Berencana merupakan salah satu
program yang bertujuan mengatasi kepadatan penduduk. Program ini sudah mulai
digalakan pada masa kepemimpinan presiden Soeharto. Saat itu penduduk di
Indonesia sudah termasuk dalam peringkat empat dunia. Dengan luas wilayah yang
kurang sepadan dengan jumlah penduduk, maka sudah dapat dipastikan bahwa
ledakan penduduk dapat terjadi di negara kita.
Untuk itu pemerintah Orde baru segera melaksanakan
program KB untuk mengurangi jumlah penduduk, dengan cara menenkan angka kelahiran. Cara ini cukup
efisien bagi penduduk desa, karena mereka diharuskan memiliki dua anak saja.
Bagi penduduk desa, seperti desa Mojo Seto program KB cukup membantu angka
kelahiran yang biasanya cukup tinggi. Desa Mojo Seto masuk dalam wilayah
kabupaten Nganjuk. Desa ini lebih sering dijuluki sebagai desa “monyet”. Hal
ini dikarenakan di desa tersebut terdapat komunitas monyet yang terdapat di
makam desa.
Populasi penduduk di desa Mojo Seto dari tahun ke
tahun tidak mengalami perubahan yang berarti. Hal ini dapat dilihat dari jumlah
penduduk yang hanya mencapai delapan ratus jiwa pertahun. Pak Iwan selaku
kepala desa mengatakan bahwa program KB di desa ini sangat berhasil. Masyarakat
di desa ini sadar untuk membentuk keluarga yang sejahtera, mereka hanya
memiliki dua anak saja.
Keberhasilan tersebut tetap terjaga walaupun angka
nikah muda di desa ini cukup tinggi. Menurut bapak Iwan rata-rata perempuan di
desa ini menikah setelah lulus SMP. Hal ini tentu dapat menjadi penghalang
program KB. Tetapi akhir-akhir ini warga Mojo Seto banyak anak-anak muda di
desa ini setelah lulus SMP bekerja. Mereka kebanyakan bekerja di luar kota dan
berhasil mengadu nasib di sana.
Dengan banyaknya pengaruh bekerja di kota membuat
para orang tua tidak terburu-buru menikahkan anaknya pada usia muda. Dari
pemikiran masyarakat yang sudah mulai dinamis, membuat angka kelahiran di desa
Mojo Seto tetap terkendali. Sehingga kepadatan penduduk tidak terjadi.
Berhasilnya program KB ini tidak terlepas dari dukungan dan partisipasi warga
desa Mojo Seto itu sendiri.
Jika jumlah penduduk dan luas tanah seimbang, maka
ledakkan penduduk yang biasa terjadi di kota-kota besar tidak berimbas di desa.
Karena sejatinya lahan di desa kebanyakan difungsikan sebagai lahan pertanian. Lahan
pertanian ini yang menghasilkan sumber pangan untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat baik desa itu sendiri maupun masyarakat kota. Oleh karena itu
diharapkan lahan di daerah pedesaan tidak terus berkurang untuk pemukiman.
Dengan adanya program KB yang bisa menekan angka kelahiran ini dapat juga
difungsikan untuk menyejahterakan masyarakat.
Oleh: Linda Handayani
No comments:
Post a Comment