Kepunden
di Desa Mojoseto
Setiap
desa mempunyai budaya yang berbeda-beda. Ada yang lebih menganut budaya atau
tradisi lama. Tidak jarang ada juga yang sudah terpengaruh budaya modern. Salah
satu desa yang masih menganut budaya lama adalah desa Mojoseto. Desa ini berada
di kecamatan Gondang kabupaten Nganjuk. Desa ini juga merupakan desa penghasil
bawang merah di kecamatan Gondang.
Budaya
yang masih dipertahankan oleh masyarakat desa Mojoseto adalah upacara selamatan
Kepunden yang ada di dusun Kalangan. Kepunden merupakan makam tua yang
dikeramatkan oleh penduduk desa.
Penduduk desa Mojoseto khususnya dusun Kalangan selalu mengadakan ritual untuk
menghormati kedua makam terebut.
Upacara
atau ritual adat masyarakat Mojoseto tersebut selalu digelar satu tahun sekali.
Peserta yang mengikuti acara tersebut adalah seluruh masyarakat desa Mojoseto
dan juga tetangga desa sekitar Mojoseto. Masyarakat yang datang dalam ritual
tersebut biasanya ingin mencari berkah.
Dimakam
itu setiap Jumat Pahing atau saat bersih Desa, yang biasanya dipercayai orang
untuk membersihkan desa agar selamat dunia akhirat, kebiasaan yang dilakukan
dengan warga desa Kalangan adalah membuat slamatan didesa kalangan dan hasil
masakan masyarakat dimakan bersama masyarat setempat.
Dalam
makam kepunden itu ada dua makam yaitu makam Nyi Sendi dengan Cokro Udo dan di
makam Nyi Sendi biasanya dijadikan tempat untuk bersih desa itu dan dalam
program KKN kelompok 63 ada program mengecat kepunden, awalnya kita takut
menginjak kepunden itu tapi setelah ditanyakan oleh juru kunci yang bernam
bapak Sumarto yang berusia kurang lebih 83 tahun.
Juru
kunci itu berkata ditempat ini tidak ada penampakan-penampakan, biasanya malah
di buat untuk berpacaran, tapi yang berpacaran disitu bukan warga Mojo Seto
tapi warga desa lain. Dan mitos-mitos penampakan disitu tidak ada, terkecuali
juru kunci itu sendiri biasanya di temui oleh Cokro Udo.
Oleh: Mentari Anita
Upacara atau ritual adat masyarakat Mojoseto tersebut selalu digelar satu tahun sekali. Peserta yang mengikuti acara tersebut adalah seluruh masyarakat desa Mojoseto dan juga tetangga desa sekitar Mojoseto. Masyarakat yang datang dalam ritual tersebut biasanya ingin mencari berkah.
Dimakam itu setiap Jumat Pahing atau saat bersih Desa, yang biasanya dipercayai orang untuk membersihkan desa agar selamat dunia akhirat, kebiasaan yang dilakukan dengan warga desa Kalangan adalah membuat slamatan didesa kalangan dan hasil masakan masyarakat dimakan bersama masyarat setempat.
Dalam makam kepunden itu ada dua makam yaitu makam Nyi Sendi dengan Cokro Udo dan di makam Nyi Sendi biasanya dijadikan tempat untuk bersih desa itu dan dalam program KKN kelompok 63 ada program mengecat kepunden, awalnya kita takut menginjak kepunden itu tapi setelah ditanyakan oleh juru kunci yang bernam bapak Sumarto yang berusia kurang lebih 83 tahun.
No comments:
Post a Comment